Publikasi & Penelitian
Karya ilmiah dan publikasi tentang seni budaya dari Padepokan Tjipta Boedaja
Menampilkan 11 publikasi
Tjipta Boedaja, Warga Tutup Ngisor, dan Ekspresi Kesenian Mereka
Tim Padepokan Seni Tjipta Boedaja
2024, Buku Laporan Penelitian, https://drive.google.com/file/d/1BVTrB47erypG3tevi1U9Fv6BbNUBEiuiX/view?usp=sharing Padepokan Seni Tjipta Boedaja merupakan ruang hidup kesenian tradisi yang tumbuh dan berkembang di Dusun Tutup Ngisor, lereng Gunung Merapi, Magelang, Jawa Tengah. Berdiri sejak tahun 1937 atas inisiatif Rama Joso Soedarmo, padepokan ini menjadi pusat pelestarian dan pewarisan seni pertunjukan rakyat, khususnya wayang wong, jathilan, karawitan, serta berbagai praktik ritual dan tradisi kejawen. Lebih dari sekadar tempat berkesenian, Tjipta Boedaja menyatu dengan kehidupan masyarakat Tutup Ngisor. Seni di padepokan ini lahir dari keseharian warga—para petani, penari, dan pelaku budaya—yang memandang seni sebagai bagian dari laku hidup. Prinsip “urip kanggo seni, dudu seni kanggo urip” menjadi fondasi nilai yang terus dijaga lintas generasi. Melalui pementasan rutin, ritual tahunan, dan keterlibatan kolektif warga, Padepokan Tjipta Boedaja tidak hanya merawat warisan budaya, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran, refleksi, dan perjumpaan antara tradisi dan zaman. Ekspresi kesenian yang tumbuh di Tutup Ngisor merekam relasi manusia dengan alam, spiritualitas, serta ingatan sejarah yang terus hidup hingga hari ini.
Konsep Petani-Seniman “Kober” di Padepokan Tjipta Boedaja, Tutup Ngisor, Magelang: Analisis Materialis Budaya
Purwanti Kusumaningtyas
2023, Makalah Jurnal, https://www.academia.edu/115691074/Farmer_Artists_Concept_of_Kober_in_Padepokan_Tjipta_Boedaja_Tutup_Ngisor_Magelang_A_Cultural_Materialist_Analysis?sm=b&rhid=38496233083 Pengalaman para seniman-petani di Padepokan Seni Tjipta Boedaja, Tutup Ngisor, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Indonesia, yang melakukan pertunjukan seni sebagai bagian dari ritual mereka empat kali setiap tahun sejak 1937, menjadi fenomena menarik untuk diteliti. Mereka bekerja di ladang dan sawah mereka dari pagi hingga siang, dan pada malam hari mereka berkumpul di padepokan untuk melakukan kegiatan seni. Sebuah studi etnografi telah dilakukan untuk memahami aktivitas mereka, terutama yang berkaitan dengan tari Jawa, lagu tradisional Jawa tembang, orkestra musik gamelan, dan drama tari Jawa. Dengan menggunakan empat aspek utama teori materialisme budaya Marvin Harris, artikel ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana mode produksi dan reproduksi di kalangan masyarakat pertanian memengaruhi aspek struktural dan infrastruktur dari sistem sosial budaya para seniman-petani. Ditemukan bahwa mereka memandang seni sebagai hobi dan ritual, bukan sebagai sumber utama penghasilan finansial. Mereka menciptakan konsep kober, yang secara harfiah berarti memiliki waktu untuk melakukan sesuatu. Pandangan mereka tentang kebiasaan mereka adalah "hidup untuk seni" alih-alih "seni untuk hidup". Hal ini menunjukkan bahwa kekhawatiran materi tetap mendasar dalam membentuk aspek organisasi dan ideologis dari sistem sosiobudaya. Hal ini didukung oleh kemampuan kognitif mereka untuk memahami pentingnya kebutuhan materi dasar sebagai landasan bagi aspek sosiobudaya dan ideologis kehidupan mereka. Pengalaman para petani-seniman di Tutup Ngisor mengubah cara linier Harris dalam mendefinisikan pembentukan budaya sebagai sesuatu yang berbasis materi menjadi cara siklik dalam pelestarian budaya.
MORPHOGENETIC KEBUDAYAAN DALAM SISTEM MATA PENCAHARIAN MASYARAKAT DESA TUTUP NGISOR, KABUPATEN MAGELANG
Devi Intan Chadijah, Aan Khosihan, Irma Juraida
2020, Makalah Jurnal, https://www.academia.edu/62194149/Morphogenetic_Kebudayaan_Dalam_Sistem_Mata_Pencaharian_Masyarakat_Desa_Tutup_Ngisor_Kabupaten_Magelang?sm=b&rhid=38496233083 Sistem budaya yang memainkan peran penting dalam kehidupan masyarakat, terutama yang berkaitan dengan kearifan lokal dalam mata pencaharian masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui budaya sistem mata pencaharian Desa Tutup Ngisor. Metode penelitian ini adalah kualitatif dengan teknik pengambilan sampel purposif. Adapun validitas data dilakukan dengan triangulasi sumber dengan wawancara mendalam sebagai teknik pengumpulan data. Penelitian ini diteliti menggunakan teori struktural dan agen dari Margaret S. Archer. Dalam teori ini, pendekatan morfogenetik dapat dilihat dalam dua bentuk, yaitu morfogenesis dan morfostasis. Terdapat pengaruh agen dan struktur dalam interaksi dan tindakan sehingga memunculkan struktur yang juga bereaksi dan berubah dengan tindakan dan interaksi agen. Berdasarkan temuan lapangan, masyarakat Desa Tutup Ngisor memiliki sejumlah elemen mata pencaharian yang telah mengalami perubahan teknis (morfogenesis) dan ada beberapa elemen yang telah mengalami perubahan (morfostasis). Dengan demikian terjadi perubahan budaya dalam sistem mata pencaharian masyarakat Desa Tutup Ngisor.
2019, Tesis S3, https://www.academia.edu/75473846/Collaborative_Filmmaking_with_Traditional_Performers_in_Highland_Java_A_Practice_Based_PhD_Thesis Tesis ini menganalisis proses kolaborasi dengan kelompok pertunjukan tradisional Jawa dalam mengadaptasi karya mereka ke dalam film. Proyek ini memiliki tujuan praktis dan penelitian. Tujuan praktisnya adalah berkolaborasi dengan kelompok pertunjukan tradisional dari daerah pedesaan, dan membantu memfasilitasi eksplorasi mereka terhadap media baru dan mengekspresikan diri melalui film. Tujuan penelitian dari proyek ini adalah untuk merekam, memahami, dan menganalisis proses tersebut, sekaligus meletakkan dasar untuk kolaborasi dan penelitian lebih lanjut dalam konteks lain dan dengan komunitas yang berbeda. Pertanyaan penelitian mendasar untuk tesis ini adalah: “bagaimana kolaborasi berkontribusi dan memfasilitasi adaptasi estetika dan ekspresi artistik kelompok tersebut ke dalam film?”Untuk menjawab pertanyaan itu, penting untuk terlebih dahulu memahami kelompok itu sendiri sebagai kolaborator lokal, termasuk anggotanya, identitas mereka, masalah dan kebutuhan mereka, serta peran penduduk desa lainnya. Tesis ini menetapkan bahwa kelompok tersebut memiliki tradisi dan sejarah yang panjang, khususnya dalam seni pertunjukan, dan komunitas desa terus-menerus berada dalam ketegangan dengan perubahan sosial, politik, dan ekologis yang sedang berlangsung, yang sering kali memberikan inspirasi bagi tema dan isi film mereka. Tujuan selanjutnya adalah untuk memahami perkembangan kolaborasi antara seniman-petani pedesaan dan kolaborator akademisi-pembuat film perkotaan mereka: tulang punggung tesis ini. Kita dapat melihat di sini bahwa membangun "landasan bersama" antara kolaborator dari konteks yang berbeda adalah proses yang panjang dan menantang. Tema penting lain dari tesis ini adalah eksplorasi proses adaptasi seni pertunjukan ke film, dan bagaimana tahun-tahun kolaborasi membentuk proses ini dan produknya. Di sini kita dapat melihat bahwa nilai-nilai budaya tertentu –bukan kurangnya akses atau kecanggihan– yang mendorong para penari Tjipta Boedaja menuju metode produksi film tertentu serta pesan-pesan tertentu. Ketika kita mencermati estetika film-film yang dihasilkan, kita mengamati bagaimana film-film tersebut merepresentasikan budaya kelompok dan desa, serta identitas para anggota dan penduduk desa, serta serangkaian estetika film baru yang muncul dari kolaborasi tersebut. Para kolaborator lokal menghubungkan teknik dan pendekatan mereka dalam bercerita dengan berbagai pertunjukan lokal. Film dalam konteks ini sebagian besar ditentukan oleh kompleksitas lokasi dan estetikanya serta preferensi penonton. Terakhir, proyek ini meneliti produksi film terbaru kelompok tersebut, mengeksplorasi apa yang telah dipelajari para kolaborator dari proses kolaborasi yang panjang, adaptasi metode pembuatan film, dan pembentukan estetika film. Pada titik ini, tesis ini menawarkan konfirmasi empiris bahwa kolaborasi pembuatan film antara dua faksi dari latar belakang yang berbeda harus membangun kepercayaan, membangun wawasan kompleks tentang semua budaya dan hubungan kekuasaan para kolaborator, dan menumbuhkan kemauan untuk melakukan investigasi intensif terhadap estetika dan pesan lokal yang paling menonjol.
2018, Makalah Jurnal, https://www.academia.edu/41946965/Biar_Dhanyang_yang_Bicara_Film_Spiritual_dan_Pesan_Substansial_dalam_Kolaborasi_Produksi_Film_Tetangga Makalah ini mengeksplorasi cara-cara untuk memastikan sebuah film dapat membuat pernyataan kepada para pendengarnya, dalam hal ini untuk berbicara tentang masalah-masalah yang ada dalam realitas: identitas lokal dan sumber daya alam, melalui tema yang tidak realistis: roh-roh desa. Tulisan ini berfokus pada kolaborasi film dengan kelompok pertunjukan tradisional Jawa,untuk mengadaptasi karya-karya panggungmenjadi karya layar. Proyek ini memiliki tujuan praktis dan riset. Tujuan praktisnya adalah untuk berkolaborasi dengan pertunjukan tradisional dari daerah pedesaan, membantu memfasilitasi eksplorasi mereka terhadap media baru untuk mengekspresikan pesan narasi, estetika dan budaya mereka melalui film. Di sisi lain, dengan menggunakan metode etnografi, tujuan penelitian ini adalah untuk merekam, memahami, dan menganalisis proses ini, sambil meletakkan dasar untuk kolaborasi dan penelitian lebih lanjut dalam konteks lain dan dengan komunitas yang berbeda. Apa yang penting adalah eksplorasi proses adaptasi seni pertunjukan untuk film, dan bagaimana kolaborasi bertahun-tahun membentuk proses ini dan produknya. Ketika kami melihat secara dekat estetika film yang dihasilkan, kami mengamati bagaimana mereka mewakili budaya kelompok dan desa, serta identitas anggota dan penduduk desa serta kumpulan estetika film baru yang muncul dari kolaborasi.
2018, Makalah Jurnal, https://www.academia.edu/130339589/Nilai_Nilai_Sakral_Wayang_Orang_Lakon_Lumbung_Tugu_Mas_Dalam_Upacara_Tradisi_Sura_DI_Dusun_Tutup_Ngisor_Sumber_Dukun_Magelang?sm=b&rhid=38490460383 Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai-nilai sakral wayang orang lakon “Lumbung Tugu Mas” dalam upacara tradisi Suran di Dusun Tutup Ngisor, Sumber, Dukun, Magelang. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif-kualitatif. Datanya berdasarkan kata-kata, wawancara, observasi, dan dokumentasi. Instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri, sebagai human instrument, yang dibantu pelbagai alat yang relevan, misalnya buku catatan, perekam video, serta kamera. Keabsahan data penelitian ini diperoleh melalui perpanjangan pengamatan, triangulasi, dan referensi. Analisis data dengan menggunakan teknik deskriptif-kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat nilai-nilai sakral dalam wayang orang lakon “Lumbung Tugu Mas”. Adapun nilai-nilai sakral itu diwujudkan misalnya dalam 3 bentuk, sebagai berikut. a) Nilai hubungan manusia dengan Tuhan, yang diwujudkan dalam bentuk slametan, Yasinan, uyon-uyon, ruwatan, pementasan tari sakral, kirab jathilan, dan kemitan. b) Nilai hubungan manusia dengan manusia, tampak dalam aktivitas misalnya: pasang tarub, slametan, pasang sesaji, pementasan wayang orang lakon “Lumbung Tugu Mas”, dan kemitan. c) Nilai hubungan manusia dengan alam, diwujudkan dalam bentuk pemilihan waktu, pemilihan tempat, sesaji, dan slametan.
Usaha Komunitas Tutup Ngisor dalam Memelihara Tradisi-Tradisi Seni dan Budaya
Yohana Ari Ratnaningtyas
2018, Makalah Jurnal, https://www.academia.edu/147845258/Community_Efforts_of_Tutup_Ngisor_in_Maintaining_Art_and_Cultural_Traditions?sm=b&rhid=38490460383 Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penyebab seni tradisional di dusun Tutup Ngisor yang masih bertahan hingga saat ini. Penelitian deskriptif kualitatif digunakan untuk mengungkap data secara komprehensif di lapangan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan melakukan observasi terhadap berbagai kegiatan seni yang ada, wawancara semi-terstruktur dengan tokoh dan pemimpin komunitas seni, serta mempelajari beberapa literatur dan penelitian sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penafsiran tradisi dan perubahan dalam seni yang dilakukan dengan bijaksana telah menjadi landasan yang kuat bagi masyarakat dusun Tutup Ngisor dalam menjaga tradisi, melestarikan nilai-nilai lokal, dan bersikap bijaksana dalam menghadapi pengaruh luar. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan solusi untuk kemungkinan menghidupkan kembali tradisi lokal yang telah punah dan menjaga tradisi tersebut tetap lestari. Oleh karena itu, diperlukan sistem pengelolaan yang baik dan jelas agar dapat mengantisipasi perkembangan zaman sehingga komunitas seni dapat terus tumbuh dan berkembang.
2016, Makalah Jurnal, https://www.academia.edu/75473744/From_Stage_to_Screen_Early_Filmmaking_of_Indigenous_Performers_in_Highland_Central_Java Makalah ini didasarkan pada studi empiris yang mengeksplorasi isu-isu seputar proses adaptasi kelompok seni pertunjukan tradisional di sebuah desa di dataran tinggi Jawa Tengah terhadap produksi film. Wayang orang—atau secara bebas diterjemahkan sebagai wayang manusia—adalah pertunjukan tradisional mirip opera yang berakar di Jawa Tengah dan Timur, Indonesia. Sebagai bagian dari masyarakat tradisional yang tinggal di daerah pedesaan, anggota kelompok tersebut mendiskusikan produksi mereka sebagian besar tanpa dokumen tertulis. Alur cerita dialami melalui pertunjukan dan menonton berbagai pertunjukan. Keterampilan teknis dibangun melalui praktik intim seumur hidup. Proyek ini mengeksplorasi pertanyaan eksploratif umum: bagaimana kelompok seni lisan dan pendengaran tradisional beradaptasi dengan peralatan elektronik sinema dan menciptakan film mereka? Dalam menjawab pertanyaan ini, penelitian menggunakan etnografi atau observasi partisipan yang diikuti oleh kolaborasi pembuatan film yang melibatkan para seniman ini, penulis, dan berbagai pembuat film dari industri. Penulis memposisikan dirinya sebagai produser film, mendukung dan mengelola anggota kelompok untuk mengeksplorasi keputusan artistik mereka sendiri. Makalah ini berfokus pada satu produksi tertentu pada tahap awal proyek.
2016, Makalah Jurnal, https://www.academia.edu/101027081/Tari_Kembar_Mayang_Sebagai_Legitimasi_Romo_Yoso_Sudarmodi_Dusun_Tutup_Ngisor_Kabupaten_Magelang?sm=b&rhid=38489645256 Penelitian ini mengambil sasaran obyek Tari Kembar Mayang sebagai legitimasi Romo Yoso Sudarmo di Dusun Tutup Ngisor, Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, dengan mengkaji pada unsur legitimasi dari Romo Yoso Sudarmo sebagai pencipta tari. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bentuk pertunjukan Tari Kembar Mayang sebagai legitimasi yang digunakan pada acara pembukaan Tradisi Suran yang disakralkan oleh masyarakat Dusun Tutup Ngisor. Penciptaan Tari Kembar Mayang didasari atas peranan Romo Yoso Sudarmo. Untuk mengungkap permasalahan dari berbagai aspek digunakan pendekatan budaya. Langkah-langkah penelitian menggunakan teknik pengumpulan data melalui studi pustaka, observasi dan wawancara sehingga dengan menggunakan metode tersebut dapat membantu untuk memecahkan permasalahan Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tari Kembar Mayang tercipta atas ide kreatif maupun Ideologi Romo Yoso Sudarmo di Dusun Tutup Ngisor, Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, untuk kepentingan legitimasi atas dirinya sebagai seseorang yang dianggap sesepuh di Dusun Tutup Ngisor. Pelaksanaan ritual meliputi dua tahap yaitu, tahap persiapan dan tahap pelaksanaan. Tahap persiapan meliputi, mensucikan diri dengan mandi besar dan berkunjung ke makam Romo Yoso Sudarmo, tahap pelaksanaan ritual terjadi pada saat Tari Kembar Mayang dipentaskan sebagai salah satu acara inti dalam Tradisi Suran. Pada kenyataannya Tari Kembar Mayang dapat dinikmati oleh masyarakat luas sebagai bentuk tari sesaji dalam acara yang sakral sebagai wujud tolak bala untuk melindungi masyarakat Dusun Tutup Ngisor agar terhindar dari segala musibah.
2012, Thesis Master, https://www.academia.edu/20112066/Dolanan_Globalisasi_Kajian_Antropologi_Globalisme_Seni_Gunung Tesis ini adalah pembahasan sebuah model proyek lokal-pinggiran yang bersifat global yang mendialogkan dan mempertahankan identitas lokal dalam kerangka kerja nasional dan/atau global. Secara spesifik, tesis ini bicara soal komunitas seni di padepokan Tjipta Boedaja, Gunung Merapi, Dusun Tutup Ngisor, Muntilan dan bagaimana cara mereka beradaptasi serta memproduksi seni dari tahun 1937 hingga sekarang dengan memakai sudut pandang globalisme dalam antropologi. Untuk menjawab hal itu tesis ini menghubungkan persepsi identitas partikularitas dalam pertemuannya dan permainannya (dolan) dengan imajinasi global dan proyek-proyek apa saja yang hadir untuk melestarikan identitas lokal tersebut dalam konteks petani gunung di Jawa.
Ikuti Program Kami
Jelajahi program pendidikan dan pelatihan seni budaya atau hubungi kami