Seni, Alam, dan Kehidupan

Padepokan Seni Tjipta Boedaja

Kami adalah komunitas seni budaya lintas bidang berbasis desa di kaki Gunung Merapi, Jawa Tengah, dengan reputasi kuat di bidang seni pertunjukan. Tradisi bagi kami bukan sesuatu yang dilestarikan dari masa lalu, namun sebagai ruang hidup, sambil terus membuka kemungkinan penciptaan baru lintas generasi dalam semangat kebersamaan dan gotong royong.

Padepokan Seni Tjipta Boedaja
1937
Tahun Berdiri
100+
Anggota Aktif
0+
Pertunjukan
100+
Siswa & Peneliti
Padepokan Seni Tjipta Boedaja
1937
Tahun Berdiri
Tentang Padepokan

Padepokan Seni Tjipta Boedaja

Sejak awal, kami dikenal luas melalui pementasan wayang orang—sebuah bentuk drama tari yang dahulu berkembang di lingkungan keraton dan kini kami hidupkan kembali dalam konteks kehidupan desa. Selain itu, kami juga mengembangkan berbagai tari rakyat gaya Magelang serta praktik seni lain yang saling terhubung, seperti musik, seni rupa, desain grafis, arsitektur, fotografi, film, tata busana, dan filsafat. Sebagian besar anggota kami tetap menjalani kehidupan sebagai petani dan menggantungkan penghidupan utama pada pertanian. Berada di lereng gunung berapi yang aktif, praktik kesenian kami berakar pada ritual keselamatan dan kesuburan. Seiring waktu, kesenian di padepokan ini berkembang menjadi ruang untuk merayakan kedekatan dengan alam sekaligus menuturkan pengalaman hidup masyarakat tani dan kelompok-kelompok pinggiran.

Pendiri: Yoso Soedarmo

Dusun Tutup Ngisor, Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kab Magelang, Provinsi Jawa Tengah, 56482

Keahlian Kami

Wayang Orang

Spesialisasi utama dalam seni pertunjukan wayang orang tradisional Jawa yang telah diwariskan turun-temurun

Seni Rakyat Magelang

Melestarikan dan mengembangkan berbagai kesenian rakyat khas Magelang untuk generasi mendatang

Pendidikan & Penelitian

Menjadi tempat belajar dan penelitian bagi akademisi, siswa, dan mahasiswa dari dalam dan luar negeri

Perjalanan Kami

Perjalanan panjang melestarikan budaya

1037 - NOW

Padepokan Seni Tjipta Boedaja berakar dari kehidupan masyarakat Dusun Tutup Ngisor di lereng Gunung Merapi. Komunitas ini tumbuh dari keyakinan bahwa kehidupan manusia, alam, dan dunia spiritual saling terhubung, dan bahwa kesenian dapat menjadi cara untuk menjaga keseimbangan di antara semuanya. Pada masa awal berdirinya dusun, warga hidup dalam jumlah kecil dan menghadapi berbagai ketidakpastian. Dari situlah, pada tahun 1937 muncul gagasan untuk mengadakan pertunjukan bersama sebagai pengikat sosial, bentuk doa bersama, bersyukur, sekaligus ikhtiar hidup yang lebih baik.

Romo Yoso Soedarmo, tokoh yang kemudian dikenal sebagai pendiri komunitas ini, saat itu mengajak keluarga dan warga sekitar untuk membuat pertunjukan sederhana sebagai bagian dari upaya merawat hubungan dengan alam dan sesama. Dari peristiwa itu, kegiatan berkesenian mulai tumbuh sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat, berdampingan dengan kerja bertani dan kegiatan desa. Kesenian tidak berdiri sebagai profesi terpisah, melainkan sebagai ruang bersama untuk berdoa, merayakan, belajar, saling menguatkan, dan salah satu yang terpenting: mencari teman.

Salah satu momen terpenting dalam siklus tahunan komunitas adalah perayaan Suran, yang menandai pergantian tahun dalam penanggalan Jawa. Rangkaian ritual dan pertunjukan dalam perayaan ini dikerjakan secara gotong royong oleh warga dan keluarga besar komunitas, dari persiapan hingga pelaksanaan. Setelah rangkaian ritual selesai, perayaan berlanjut dengan berbagai pertunjukan dari warga desa dan tamu dari berbagai daerah, menjadikan Tutup Ngisor ruang pertemuan bagi beragam praktik kesenian.

Seiring waktu, Padepokan Seni Tjipta Boedaja berkembang sebagai komunitas seni berbasis desa yang tetap berakar pada kehidupan agraris dan kedekatan dengan lingkungan, sekaligus terbuka pada perubahan. Kini ada 4 pentas rutin tahunan: Suran, Hari Raya Idul Fitri, Maulid Nabi Muhammad, dan Hari Kemerdekaan. Generasi muda belajar dari para senior, sementara anggota komunitas juga berinteraksi dengan masyarakat luas. Berkat interaksi semacam ini, semakin banyak seniman dan akademisi dari luar yang menjadi anggota, dan tumbuh pula jumlah warga lokal yang menggeluti seni kontemporer dan menjadi pendidik serta akademisi. Hingga kini, kesenian di padepokan ini tetap dijalankan sebagai bagian dari kehidupan bersama—sebagai ruang hidup, ruang belajar, dan ruang penciptaan yang terus bergerak dari generasi ke generasi.

Berita Terkini

Hari Peradaban Desa Kembali Diperingati secara Sederhana
21 May 2025

Hari Peradaban Desa Kembali Diperingati secara Sederhana

Baca Selengkapnya

Kunjungi Padepokan Tjipta Boedaja

Dusun Tutup Ngisor, Desa Sumber, Magelang

Hubungi Kami